Aku telah menjadi tertawaan sepanjang hari,
mereka semua mengolok-olokkan aku
sebab setiap kali aku berbicara terpaksa aku berteriak.
Aku berlelah-lelah menahannya tetapi aku tidak sanggup.
Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api.
Ketika aku berkeluh kesah, aku berbicara dengan lidahku.
Aku hanyalah bayangan yang berlalu.
Air mataku menjadi makanan ku, siang dan malam.
Aku pergi tinggalkan kedamaian untuk melalui kegalauan yang selalu menyelimuti bumi.
Aku melangkah gontai ketika semua orang menatapku dengan tatapan kebencian.
Ku percepat langkahku saat kulihat seseorang telah bersiap membunuhku dengan racun hatinya.
Aku bahkan tak menolehnya sedikitpun ketika ia memanggil namaku.
Aku takut hatiku teracuni kembali, sepertinya aku juga takut tak bisa mewarnai sisa hidupku dengan kebaikan.
Hatiku teriris melihat perilaku mereka.
Aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan, aku tak melihat apa yang mereka lakukan dan tak mengerti apa yang mereka inginkan.
Karena hatiku telah membisikkan kepada jiwaku bahwa hidup mereka adalah KEBOHONGAN.
Aku kembali melangkah diantara sisa-sisa mimpiku yang hampir menghilang.
Kesepian kembali membunuh langkahku ketika aku melalui tempat peristirahatan terakhir bagi manusia.
Suatu saat nanti, aku akan terbaring disini untuk selamanya, saat aku tak pedulikan luka yang kini mulai ada dihidupku.
Aku masih melangkahkan kaki saat mentari hampir menghilang dibalik tebing cahaya untuk beristirahat setelah seharian menghangatkan dunia yang dingin.
Aku tertegun memandang jingganya langit sore, Indah.
Matahari telah sepenuhnya menghilang. Angin lembut bertiup menemani diriku.
Aku terus melangkah dalam gelap dunia.
Bintang malam muncul, terangi malam yang sepi.
Ribuan kelip cahaya menemani bulan yang bertakhta di atas sana.
Ku tersenyum saat indahnya malam yang selalu menerangi gelap hatiku.
Samar-samar ku dengar nyanyian malam yang telah terbangun dari lelapnya,
semua semakin menggoyahkan langkahku.
Nyanyian malam semakin bergema larutkan kesedihan ku yang ditelan kegelapan.
Tiba-tiba nafasku tercekat.
Aku merasakan sakit yang seakan-akan menusuk-nusuk tubuhku.
Dengan susah payah aku berjalan menuju rumahku.
Angin malam berhembus kencang, menerpa tubuhku yang tidak berdaya.
Bumi mulai menangis, seakan-akan ikut merasakan sakit pada diriku.
Hujan semakin deras membasahi kehidupanku yang telah lama menghilang.
Aku terus berjalan memegangi kepalaku yang mendadak merasa dihujani ribuan pedang.
Aku terjatuh ditengah kesedihan bumi.
Hatiku menjadi seperti lilin
Hancur luluh didalam dadaku.
kekuatanku menjadi kering dan mataku tertutup.
Hanya terdengar degup jantung yang terkurung saat itu.
Aku sebut-sebut namaMu pada waktu malam dalam hatiku.
Aku terdiam kaku dan rohku mencari-cari
Dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.
Inikah akhir dari semua kehidupanku?
Mungkinkah aku tidak akan melihat lagi, seseorang yang ku kasihi meskipun ia telah mencampakkan ku?
Jikalau itu yang terbaik.
Biarkanlah aku, supaya aku dapat tersenyum sejenak atas semua lukaku!
dan biarkanlah aku, menyiksa diriku dengan berpuasa dan berdoa "menanyakan air mata dan nyawa yang beberapa kali tidak pernah dihargai mereka".
"Supaya aku bersukacita, sebelum aku pergi dan tidak akan ada lagi".



0 komentar:
Posting Komentar